
NewsMediawana.com – Sudan, negara dengan peradaban panjang yang selalu berjuang melawan krisis, kini terjebak dalam perang internal yang tragis. Sejak April 2023, pertempuran sengit antara dua faksi militer utama telah merenggut ribuan nyawa dan melumpuhkan infrastruktur vital.
Publik internasional bertanya: Apa inti masalah yang sebenarnya terjadi di Sudan? Jawabannya adalah kombinasi kompleks dari perebutan kekuasaan yang brutal, sejarah konflik yang belum usai, dan kegagalan transisi menuju demokrasi.
Aktor Utama di Balik Kekacauan
Di tengah reruntuhan Khartoum, ada dua kekuatan militer yang saling berhadapan:
Pasukan Bersenjata Sudan (SAF): Militer resmi Sudan, dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah al-Burhan.
Pasukan Dukungan Cepat (RSF): Unit paramiliter kuat, dipimpin oleh Jenderal Mohamed "Hemedti" Dagalo.
Mereka sebelumnya adalah sekutu yang bekerja sama menggulingkan diktator lama Omar al-Bashir pada 2019. Keduanya memimpin dewan transisi yang seharusnya menyerahkan kekuasaan kepada sipil.
Namun, ambisi pribadi yang bertolak belakang dan ketidakpercayaan mendalam menjadi bom waktu yang siap meledak.
Akar Masalah: Dari Janjaweed ke Konflik Internal
Konflik ini bukanlah insiden mendadak, melainkan klimaks dari ketegangan lama.
Untuk memahami RSF, kita harus melihat ke belakang. RSF adalah evolusi dari milisi Janjaweed yang dikenal kejam saat menekan pemberontakan di Darfur pada awal 2000-an. Tindakan mereka memicu krisis kemanusiaan masif dan dituduh melakukan genosida.
Hemedti, pemimpin Janjaweed saat itu, berhasil memperkuat pasukannya dan secara resmi membentuk RSF. RSF kini adalah kekuatan militer dan ekonomi yang tangguh (terlibat di bisnis tambang emas).
Bagi Al-Burhan dan SAF, RSF dianggap ancaman eksistensial—sebuah pasukan paramiliter yang semakin kuat dan menantang dominasi militer tradisional.
Pemicu Perang: Gagalnya Integrasi Militer
Setelah kudeta bersama di 2021 yang menggagalkan pemerintahan sipil, inti perselisihan yang meletus pada April 2023 adalah rencana integrasi RSF ke dalam SAF. Integrasi ini merupakan syarat utama untuk kembali ke pemerintahan sipil.
Negosiasi menjadi buntu total. SAF ingin integrasi penuh dalam waktu singkat. Hemedti menolak, khawatir kekuasaannya akan hilang dan pasukannya dilucuti oleh institusi militer yang sudah ada.
Perselisihan tentang struktur komando, dan siapa yang akan menjadi panglima tertinggi, akhirnya menjadi percikan api yang membakar negara.
Dampak Nyata: Bencana Kemanusiaan yang Mengerikan
Perang, yang berpusat di Khartoum dan Darfur, telah melahirkan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia saat ini. Laporan resmi mencatat lebih dari 13.000 korban tewas, dengan angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi.
Lebih dari 7 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, menjadi pengungsi internal atau mencari suaka ke negara tetangga. Rumah sakit, pasar, dan fasilitas dasar hancur total.
Sistem kesehatan kolaps, dan ancaman kelaparan skala besar mengintai jutaan jiwa. Situasi sanitasi yang memburuk juga memicu peringatan wabah penyakit serius.
Tantangan ke Depan dan Diplomasi yang Mandek
Upaya gencatan senjata yang dimediasi pihak internasional (termasuk Arab Saudi dan AS) berulang kali gagal. Kedua jenderal, yang sama-sama bersikeras meraih kemenangan militer, terus melanjutkan pertempuran.
Rakyat Sudan, yang merindukan kedamaian dan demokrasi pasca-revolusi 2019, kini terjebak di antara dua pemimpin militer yang haus kekuasaan. Sudan kini di ambang disintegrasi, yang berpotensi memicu instabilitas regional yang sangat besar.
Kesimpulan
Tragedi di Sudan adalah cerminan dari kegagalan kepemimpinan, di mana ambisi pribadi para elit militer lebih diutamakan daripada keselamatan bangsa. Ini adalah perjuangan kekuasaan yang kejam dengan latar belakang sejarah kekerasan dan ketidakpercayaan yang akut.
Menghentikan perang ini bukan hanya soal negosiasi. Ini juga tentang membangun kembali fondasi negara yang rusak, memastikan keadilan bagi para korban, dan mewujudkan harapan rakyat Sudan untuk pemerintahan yang damai dan sipil.
Hingga tujuan itu tercapai, Sudan akan tetap menjadi tragedi kemanusiaan yang mendalam.