Tangsel - Sosok di balik wajah polos Hasna Nabila Zahra, siswi kelas IX UPTD SMP Negeri 20 Tangerang Selatan, berdiri polos di samping temannya yang akrab disapa Nanas, setelah selesai mengikuti Penilaian Tengah Semester (PTS) di sekolahnya. Wajah keduanya masih terlihat lelah namun ceria, seperti kebanyakan siswa kelas 9 yang baru saja menuntaskan ujian, namun justru di situlah kisah mereka berubah jadi menarik untuk diceritakan.
Ketika kami berbincang sebentar, Nanas Tidak banyak bicara. Namun ekspresinya berubah begitu tasnya terbuka. Dengan santai, ia menarik sebuah file dari dalam tas, seolah menyimpan rahasia kecil yang tak banyak orang tahu.
Kejutan di balik file gambar
Begitu file itu kami periksa, tiba‑tiba saja suasana berubah: ternyata itu bukan sekadar catatan pelajaran, melainkan kumpulan gambar hasil karya Nanas sendiri. Gambar‑gambar itu tertata rapi, ada yang masih berupa sketsa, ada pula yang sudah diwarnai, seolah‑olah ia punya dunia imajinasi pribadi yang terus dikembangkan meski di tengah “tekanan” PTS dan tugas pelajaran.
Yang menarik, Nanas tidak merasa karyanya istimewa. Ia hanya mengatakan bahwa menggambar adalah cara sederhana untuk melepas penat, sekaligus “menyelamatkan” dirinya dari rasa jenuh saat belajar. Namun dari sudut pandang profesional, karya Hasna justru jadi bukti bahwa bakat anak‑anak di SMP 20 Tangsel tidak hanya muncul saat lomba resmi, tetapi juga tumbuh diam‑diam di buku tulis, file laptop, dan tas sekolah mereka.
Solusi praktis agar “bakat dalam kantong” tidak hilang
Agar kreativitas seperti Nanas dan teman‑temannya tidak hanya berhenti di dalam tas, beberapa langkah bisa diusulkan :
Sudut kreativitas kelas : tiap kelas bisa menyediakan “sudut karya” (digital atau manual) tempat siswa menampilkan sketsa, komik, atau ilustrasi mereka, baik di dinding kelas maupun di akun Instagram sekolah.
Integrasi seni dengan pelajaran : guru seni rupa dan guru kelas bisa menggabungkan proyek‑proyek kreatif (buku komik pendek, ilustrasi cerita, infografis fakta pelajaran) sehingga menggambar bukan lagi “hanya hobi”, tetapi bagian dari pembelajaran.
Lomba internal antar kelas : sekolah bisa menggelar lomba karya seni dalam kelas atau lintas kelas dengan tema sederhana (misalnya “Sekolah Impianku” atau “Masa Depanku sebagai…”), supaya siswa seperti Hasna merasa dihargai dan punya ruang unjuk prestasi tanpa beban.
Pendampingan siswa berbakat : guru atau wali kelas bisa menjaring siswa yang punya bakat khusus, lalu menghubungkannya dengan bimbingan khusus, kelas gambar daring, atau komunitas seni di luar sekolah supaya karya mereka berkembang lebih serius.
Dengan begitu, Nanas. dan teman‑temannya tidak hanya sekadar siswa kelas 9 yang sedang sibuk dengan PTS, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem kreativitas di SMP 20 Tangsel—di mana bakat kecil di dalam tas bisa tumbuh menjadi karya besar di masa depan. (AM2GA)
.jpg)


Semangat nak lanjutkan hobby nya dan tetap semangat belajar dan kejar terus cita citamu
BalasHapusTetap semangat belajar nak
BalasHapus