Kota Tangerang - Festival satu bulan penuh kebangkitan masjid Perhelatan sejumlah lomba dalam Ramadan Al‑A’zhom Festival 2026 resmi ditutup dengan catatan hasil yang membanggakan. Festival sebulan penuh ini sukses menghidupkan Masjid Raya Al‑A’zhom sebagai pusat syiar Islam, pusat pemberdayaan ekonomi umat, sekaligus wadah unjuk prestasi generasi muda di jantung Kota Tangerang.
Ketua Pelaksana, Malkan, menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat yang dinilainya luar biasa tinggi. Menurut Malkan, aktivitas ibadah di masjid makin hidup, sementara puluhan tenant kuliner dan UMKM di sekitar kawasan merasakan kenaikan omzet dan kedatangan pengunjung tiap harinya.
Kubah besar tanpa penyangga, ruang untuk prestasi
“Alhamdulillah, hasilnya luar biasa. Aktivitas di masjid semakin makmur dan ramai. Para tenant juga merasakan dampak positif,” kata Malkan, menegaskan bahwa kegiatan ini berlangsung di masjid bergengsi dengan kubah terbesar di dunia tanpa penyangga. Nuansa religi Ramadan dipadukan dengan sirkulasi ekonomi umat, sehingga kawasan masjid bukan lagi sekadar tempat ibadah, tapi juga menjadi ruang publik yang produktif dan nyaman.
Malkan berharap, penyelenggaraan Ramadan Al‑A’zhom Festival di tahun‑tahun berikutnya bisa lebih besar: jumlah peserta lomba lebih masif, kategori lomba lebih beragam, dan kualitas tampilan lebih memukau. Dengan begitu, festival tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi tolak ukur kemampuan komunitas dan sekolah dalam membangun karakter generasi muda berbasis nilai‑nilai Islam.
Dai cilik jadi sorotan, Abinaya bawa pesan moral
Salah satu sisi paling menarik dari festival tahun ini adalah lahirnya bibit unggul melalui berbagai kompetisi, terutama Lomba Dai Cilik (Pildacil) yang menyedot perhatian ribuan pengunjung. Abinaya, yang berhasil meraih juara pertama, menjadi simbol keberhasilan ajang ini dalam menggali bakat anak sejak usia dini, sekaligus menunjukkan bahwa dakwah tidak harus menunggu dewasa.
“Terima kasih kepada panitia yang telah menghadirkan berbagai lomba, khususnya Pildacil. Kegiatan ini sangat baik untuk menggali potensi, mengasah kemampuan anak, sekaligus memotivasi mereka untuk meraih prestasi,” tutur Abinaya, yang aksinya dipuja oleh orang tua, guru, dan komunitas dai cilik. Tampil singkat di atas panggung, namun pesan‑pesan moral tentang akhlak, ilmu, dan tanggung jawab disampaikan dengan runut dan menggugah, sehingga penonton merasakan bahwa “dakwah kecil” bisa tetap berdampak besar.
Solusi agar festival tidak hanya hiruk‑piyuk sesaat
Supaya Ramadan Al‑A’zhom Festival tidak hanya jadi pesta sekaligus, beberapa langkah bisa diusulkan :
Program lanjutan pascaramadan: panitia bisa menggulirkan kelas dai cilik, pelatihan Quran, atau pelatihan UMKM setelah festival, sehingga energi yang terbangun tidak hilang begitu saja.
Kemitraan dengan sekolah dan pesantren : mengikat kerja sama dengan sekolah/madrasah untuk menjadikan lomba Pildacil, tahfidz, dan kasidah sebagai bagian dari kurikulum ekstrakurikuler yang berkelanjutan.
Pengelolaan tenant lebih profesional : pemerintah kota dan DKM bisa membuat aturan tertib tenant (standar kebersihan, kewajiban pajak daerah, dan penataan kios) agar kawasan masjid tetap rapi dan ekonomi umat tetap bergerak.
Branding sebagai ikon religi & edukasi : festival dijadikan acuan kalender pariwisata religi Banten, dengan paket edukasi keluarga (ta’lim, kelas parenting, klinik motivasi, bazaar) sehingga Al‑A’zhom bukan hanya destinasi cari foto, tetapi juga pusat belajar.
Dengan pendekatan seperti ini, Ramadan Al‑A’zhom Festival bisa tumbuh bukan hanya sebagai “acara megah”, tetapi sebagai jembatan nyata antara syiar Islam, pemberdayaan ekonomi, dan pembentukan generasi yang berakhlak dan berprestasi. (AM2GA)
Tags
Nasional
