Lubang yang cukup besar itu berada di sisi jalan, dekat garis marka. Hingga berita ini ditulis, belum ada penanganan resmi dari pihak terkait. Jika dibiarkan, potensi kecelakaan—terutama bagi pengendara sepeda motor —menjadi nyata, apalagi pada malam hari saat jarak pandang terbatas, atau ketika hujan turun dan lubang tertutup genangan air.
Inisiatif warga jadi “alarm jalanan”
Sebagai langkah antisipasi, warga sekitar berinisiatif memasang tanda darurat di lokasi lubang, agar pengendara lebih waspada saat melintas. Tanda sederhana itu, meski bukan solusi teknis, menjadi penanda bahwa warga khawatir dan tidak ingin menunggu telat korban jatuh baru ada respons.
“Kami khawatir kalau tidak segera ditangani bisa mencelakakan pengendara. Apalagi lokasinya berada di prapatan yang cukup ramai dilalui kendaraan,” ujar salah satu warga di lokasi. Bagi banyak pengguna jalan, prapatan seperti Jalan Bonjol bukan hanya jalur biasa, melainkan “jalan nadi” warga Pondok Karya yang terhubung ke kantor, sekolah, toko, dan pusat perbelanjaan, sehingga kerusakan jalan di sana sangat sensitif.
Camat menyatakan akan tindak lanjuti
Saat dikonfirmasi, Camat Pondok Aren, Hendra, memastikan akan segera menindaklanjuti laporan mengenai kondisi jalan tersebut. “Terima kasih atas informasinya, segera saya tindak lanjuti,” ujarnya, memberi sinyal bahwa permasalahan ini tidak akan dibiarkan menggantung.
Namun, di tengah kerusakan jalan yang cukup masif di sejumlah kota Jabodetabek, lubang seperti di Jalan Bonjol kerap menjadi “korban lupa” di antara daftar prioritas perbaikan.
Di Jakarta, misalnya, ribuan titik jalan berlubang sudah ditambal dalam satu bulan; di Banten, beberapa jalan di Tangsel juga masuk daftar perbaikan provinsi.
Solusi supaya “lubang jangan jadi jebakan”
Agar lubang seperti di Prapatan Bonjol tidak lagi jadi jebakan bagi warga, beberapa langkah konkret dapat diusulkan :
Sistem pelaporan resmi yang cepat : Pemkot dan UPTD PUPR dapat mengaktifkan kanal pelaporan khusus “jalan berlubang” lewat aplikasi, WhatsApp, atau call center, dengan target respon maksimal 24 jam untuk penambalan darurat.
Penambalan darurat + patching permanen : lubang besar seperti di Jalan Bonjol tidak hanya ditutup seadanya, tetapi ditangani bertahap: tambal cepat dulu, lalu jadwalkan patching permanen dengan aspal hotmix saat kondisi jalan dan cuaca memungkinkan.
Kerja sama dengan RT/RW : RT/RW bisa dijadikan jaringan pelapor jalan rusak, sehingga data kerusakan jalan bisa dikumpulkan secara sistematis, bukan hanya dari aduan individu.
Peningkatan drainase lokal : sejumlah jalan berlubang muncul karena genangan air yang berulang; dengan drainase yang lebih baik, tekanan pada aspal berkurang dan usia jalan jadi lebih panjang.
Dengan pendekatan ini, prapatan Jalan Bonjol tidak lagi jadi simbol “jalan terlupakan”, tapi justru menjadi contoh kecil bagaimana warga dan pemerintah bekerja sama untuk menjaga keselamatan pengguna jalan, satu lubang sekaligus. (AM2GA)
