Arena Domino di Gedung Rakyat, Diamnya Anggota Dewan Tangsel Panen Kritik


Tangsel – Wajah politik dan pemerintahan di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kembali terusik oleh isu penggunaan aset publik yang kontroversial. Sebuah kejuaraan domino, permainan yang secara budaya sering kali diasosiasikan dengan kegiatan rekreasi informal di luar ruangan, kini akan digelar di jantung lembaga perwakilan rakyat : Gedung DPRD Kota Tangerang Selatan. Langkah ini memicu gelombang kritik pedas, terutama terkait dugaan marwah lembaga legislatif yang tergadaikan dan hilangnya motto luhur kota.

Informasi yang dihimpun dari poster resmi yang beredar luas, Kejuaraan Cabang (Kejurcab) ORADO (Federasi Olahraga Domino) Kota Tangerang Selatan, Kategori Senior, dijadwalkan akan berlangsung pada Sabtu, 28 Maret 2026. Fakta yang paling mengejutkan dan menjadi pusat perhatian adalah lokasi kegiatan yang tertera dengan jelas : "Gedung DPRD Kota Tangerang Selatan." Kejuaraan ini juga membawa motto Tangsel "Sinergi Bersama," namun di saat yang sama, salah satu penyelenggara yang tampak pada poster adalah "MT Sahabat Muslim Tangerang," sebuah fakta yang terlihat kontradiktif dengan sifat turnamen tersebut.

Penggunaan Gedung DPRD untuk turnamen domino adalah sebuah "tamparan keras" bagi marwah lembaga legislatif. Gedung DPRD bukanlah gedung serba guna biasa yang bisa disewakan untuk kegiatan rekreasi, melainkan sebuah sacred space (ruang sakral) tempat wakil rakyat berkumpul untuk membahas dan merumuskan kebijakan publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Menjadikan ruang rapat dewan sebagai arena adu strategi permainan kartu domino, yang secara stigma sering diidentikkan dengan judi atau kegiatan tidak produktif, dinilai sebagai tindakan yang memalukan dan menunjukkan degradasi fungsi gedung dewan.

Tindakan ini juga secara otomatis melukai motto luhur Kota Tangerang Selatan: "Cerdas, Modern, Religius." Bagaimana visi "Religius" bisa sejalan dengan turnamen domino di gedung pemerintah? Ini adalah pertanyaan krusial yang harus dijawab. Alih-alih mempromosikan kegiatan yang sejalan dengan nilai-nilai religius dan produktif, penyelenggaraan turnamen ini di gedung dewan justru mengirimkan pesan yang salah kepada masyarakat, seolah-olah lembaga negara mengabsahkan atau bahkan mendorong kegiatan yang bertentangan dengan motto kota. Motto tersebut tidak lagi bermakna selain tulisan di poster.

Masyarakat Tangsel geram dengan situasi ini. Berita ini tidak bermaksud mengecilkan nilai domino sebagai olahraga otak yang kini diakui secara resmi di bawah naungan federasi (ORADO). Poin kritik utama adalah lokasi penyelenggaraannya. Solusinya sangat sederhana : relokasi kegiatan. Kejuaraan domino ORADO adalah kegiatan yang sah, namun harus dilaksanakan di tempat yang pantas, seperti gedung olahraga, pusat komunitas, atau ruang terbuka hijau yang diperuntukkan bagi kegiatan komunitas, bukan di gedung yang menjadi simbol perwakilan rakyat. Penyelenggara dan pihak yang memberikan izin harus memiliki etika dan pemahaman yang lebih baik tentang penggunaan aset publik yang bersifat formal dan sakral.

Upaya konfirmasi telah dilakukan oleh awak media ke pihak Sekretariat Dewan dan Anggota DPRD Tangsel, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan pasti. Pihak keamanan (security) di Gedung DPRD berdalih tidak mengetahui perizinan tersebut dan mengarahkan untuk langsung bertanya ke Anggota Dewan. Namun, narasumber dari jurnalis di lapangan melaporkan bahwa para Anggota DPRD Tangsel seolah-olah "tutup mulut" dan "diam seribu kata" ketika dimintai keterangan perihal penggunaan gedung dewan tersebut. Diamnya mereka justru menjadi indikasi buruk adanya ketidakjelasan perizinan atau bahkan sikap mengabaikan kepatutan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh wakil rakyat. Publik Tangsel menanti penjelasan dari para wakil mereka. (AM2GA)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال