Melihat rekam jejak yang ada, kesejahteraan guru tampak seperti "bola pingpong" kebijakan yang tak kunjung menemukan titik ideal. Setiap era menawarkan harapan, namun selalu menyisakan celah yang perih bagi para pengabdi di ruang kelas.
Tiga Era, Tiga Cerita : Antara Sertifikasi dan Beban Kerja
Era SBY (2004-2014) : Revolusi Kesejahteraan PNS Era ini dikenang sebagai masa keemasan bagi guru PNS melalui program Sertifikasi Guru Massal. Dengan tunjangan sebesar satu kali gaji pokok, kesejahteraan guru PNS melonjak drastis.
Namun, era ini juga menciptakan kesenjangan yang lebar antara guru berstatus PNS dan mereka yang masih berstatus honorer.
Meski memberikan peluang status, era ini juga dibarengi dengan tuntutan Pelatihan & Digitalisasi yang masif.
Ironisnya, inovasi ini justru menghadirkan beban administrasi yang luar biasa berat, memaksa guru lebih banyak menghadap layar komputer daripada bertatap muka dengan murid.
Wacana birokrasi yang lebih mudah dan kelanjutan program PPPK menjadi tumpuan harapan. Namun, publik masih menunggu: Apakah ini akan menjadi solusi nyata atau sekadar pemanis politik di awal masa jabatan?
Tidak ada era yang mampu memuliakan seluruh guru secara sekaligus. Gaji mungkin naik perlahan dan peluang karier terbuka, namun beban kerja tetap menjadi "momok" yang mematikan kreativitas pendidik.
untuk Masa Depan Pendidikan :
Penyederhanaan Administrasi (De-birokratisasi) : Pemerintah pusat harus segera memangkas aplikasi-aplikasi yang tumpang tindih. Guru adalah pendidik, bukan staf administrasi data.
Kepastian Status Tanpa Diskriminasi : Skema PPPK harus diperjelas status hukum dan jaminan hari tuanya agar setara dengan PNS, guna menghapus kasta dalam ruang guru.
Sinkronisasi Anggaran Pusat-Daerah : Masalah klasik macetnya gaji dan tunjangan harus diselesaikan dengan sistem penggajian satu pintu (Direct Payment) dari pusat, agar tidak lagi menjadi "bola panas" di tangan Pemerintah Daerah. (AM2GA)
