Anak SD NTT Gantung Diri Gara-Gara Buku Mahal: Pendidikan Gratis Bohong!

 



NTT - Tragedi tragis mengguncang Kabupaten Ngada, NTT: siswa SD nekat akhiri hidup karena orang tua tak sanggup beli buku pelajaran—tekanan ekonomi pelosok hantam mimpi anak. Bukan cuma duka keluarga, ini tamparan telak buat pendidikan nasional yang katanya gratis tapi realitasnya mencekik daerah tertinggal.

Di tengah gembar-gembor bonus demografi dan Indonesia Emas 2045, anak pelosok NTT masih anggap buku sebagai barang mewah. Program makan siang gratis digulirkan, tapi warga desak: "Mana buku, seragam, fasilitas? Pungutan liar bikin sekolah jadi beban, bukan jalan keluar kemiskinan!"

Kekecewaan membuncah di medsos: anggaran negara megah untuk proyek global, tapi sekolah pelosok kekurangan guru, buku usang, ruang kelas reyot. "Prioritas mana? Anak pelosok tersisih!" bentak netizen. UUD 1945 janjikan pendidikan gratis layak—tapi jurang pusat-daerah makin lebar, erosi kepercayaan rakyat.

Jangan salahkan korban atau orang tua; negara pegang amanat konstitusi. Tragedi Ngada jadi sirine darurat: statistik indah tak ganti nyawa anak.

Buku digital gratis nasional : E-book PD via app murah, akses offline—hemat Rp5 juta/sekolah/tahun.

Zona nol pungutan : Audit ketat sekolah daerah tertinggal, hukum berat pengutip—target 100% nol biaya siswa. Guru darurat 1:30: Rekrut honorer lokal via PPPK cepat, tambah insentif daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

Anggaran prioritas 20% : Alokasi khusus 3T untuk fasilitas, pantau real-time via dashboard Kemendikbud.Hotline anak tertekan: Layanan 24/7 konseling sekolah + psikolog desa, cegah tragedi berulang. Negara, jangan telat lagi—buku bukan kemewahan, tapi hak anak. Wujudkan pendidikan manusiawi, atau bonus demografi jadi bom waktu! (AM2GA)




Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال