Tangsel – Di tengah sorotan tajam publik mengenai anggaran fantastis pengadaan sarung merek high-end (BHS) yang menembus angka Rp1 miliar, Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) justru meninggalkan "borok" besar di halaman belakang rumahnya sendiri.
Ribuan ASN dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) kini berada di ambang frustrasi. Hak mereka berupa tunjangan bulan ini belum juga mendarat di rekening. Lebih parah lagi, nasib para PPPK Paruh Waktu bak "pajangan" birokrasi: Sudah memegang SK di tangan, namun dompet tetap kosong melompong karena status gaji yang masih menjadi misteri.
PR Menumpuk, Walikota Dinilai "Tuli" Skala Prioritas
Kekecewaan ini bukan tanpa alasan. Publik mempertanyakan urgensi anggaran sarung mewah di saat kesejahteraan aparatur di level bawah sedang sekarat. Kondisi ini mencerminkan manajemen keuangan daerah yang sedang tidak sehat.
Status honorer yang baru menerima SK pun kini dihantui kecemasan serupa—takut nasibnya berakhir sama dengan rekan mereka di PPPK Paruh Waktu yang hingga kini belum mencicipi gaji pertama.
"Ini sungguh mengecewakan. Bagaimana mungkin pengadaan barang konsumtif seperti sarung miliaran rupiah begitu lancar jaya, sementara administrasi penggajian pegawai yang sudah sah ber-SK justru macet total?" ujar salah satu sumber internal yang enggan disebutkan namanya karena alasan keamanan posisi.
Solusi Konkret : Mengurai Benang Kusut Sebelum 18 Februari
Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan janji manis di media. Pemkot Tangsel harus mengambil langkah taktis dalam 72 jam ke depan:
Realokasi Dana Non-Urgen : Walikota harus berani mengeluarkan kebijakan diskresi untuk memprioritaskan pemenuhan hak pegawai (gaji dan tunjangan) di atas pengadaan barang hobi atau seremonial.
Transparansi Status Sistem (SITP): BPKAD Tangsel wajib memberikan update harian mengenai proses sinkronisasi data PPPK ke sistem penggajian pusat agar tidak terjadi simpang siur informasi.
Audit Skala Prioritas: Perlu adanya peninjauan ulang terhadap anggaran 2026 agar kejadian "belanja mewah di saat krisis internal" tidak berulang. *AM2GA*
