NUNUKAN – Ironi besar terjadi di beranda utara Nusantara. Saat negara meneriakkan penguatan wilayah perbatasan, seorang guru agama di SDN 001 Sebatik Tengah, Ibu Halimah, justru dikabarkan menjadi martir di tengah pusaran "penindasan" birokrasi sekolah. Sebuah surat terbuka yang kini viral di media sosial mengungkap potret kelam yang dialami pejuang literasi ini, hingga memicu gelombang amarah publik di bawah tagar #SaveIbuHalimah.
Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Ibu Halimah mengalami intimidasi sistematis yang menjurus pada perundungan profesional. Ironisnya, tindakan ini terjadi di wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.
Isolasi dan 'Penyanderaan' Hak Ekonomi
Penderitaan Ibu Halimah bukan sekadar kabar angin. Ia diduga menjadi korban pengucilan secara tidak manusiawi. Ruang guru yang seharusnya menjadi tempat diskusi pendidik, justru menjadi area terlarang baginya.
"Beliau harus terasLlling di perpustakaan sekolah karena akses komunikasi internal ditutup rapat," tulis narasi dalam surat terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden RI dan Mendikbudristek tersebut.
Tak berhenti di sana, kekejaman birokrasi diduga merambah ke urusan dapur. Selama setahun penuh, tunjangan sertifikasi yang merupakan hak mutlaknya tak kunjung cair. Penyebabnya sepele namun fatal: berkas administrasinya diduga sengaja tidak disahkan oleh sang pimpinan sekolah tanpa alasan hukum yang jelas.
KHesehatan Ambruk di Garis Depan
Tekanan psikis yang bertubi-tubi akhirnya meruntuhkan ketahanan fisik Ibu Halimah. Sang guru dilaporkan jatuh sakit dan harus menjalani perawatan medis serius. Luka batin akibat dikhianati oleh sistem di lingkungan kerjanya sendiri menjadi beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian di tapal batas negara. (AM2GA)
