Internet Gratis 5.000 Titik di Tangsel: Akses Merata, Inklusif, Tapi Harus Aman dan Bijak Dipakai


 Tangsel - Transformasi Digital dari Ruang Publik Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) resmi menggelontorkan jaringan Wi‑Fi gratis di 5.000 titik sekaligus. Titik‑titik ini menyebar di taman warga, balai warga, masjid, gereja, taman kota, hingga lapangan olahraga, sehingga ruang publik tidak lagi “mati sinyal” tapi jadi ruang produktif dan menghubung.

Program ini bukan sekadar pemasangan titik akses, melainkan langkah strategis mempersempit kesenjangan digital dan memastikan warga Tangsel—tanpa terkecuali—mendapat akses setara terhadap informasi, pendidikan daring, peluang usaha, dan layanan pemerintah. “Internet hari ini sudah menjadi kebutuhan dasar,” tegas Kepala Diskominfo Tb. Asep Nurdin, yang menegaskan bahwa digitalisasi harus berjalan bersama‑sama dengan nilai kebersamaan dan keislaman.

Internet di Masjid dan Gereja, Bukan Sekadar Jaringan Menariknya, Pemkot menempatkan Wi‑Fi gratis juga di fasilitas ibadah, sebuah simbol bahwa transformasi digital tidak boleh menggerus ruang spiritual dan kebersamaan masyarakat. “Digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tapi soal menghadirkan kemudahan dan manfaat nyata bagi warga,” ujar Asep, merujuk pada target agar ruang publik Tangsel menjadi area yang terkoneksi, produktif, dan memberdayakan.

Dari sisi teknis, Diskominfo mengoperasikan sistem pemantauan terpusat untuk menjaga stabilitas koneksi dan meminimalkan gangguan. Sekaligus, sistem pengamanan diperkuat agar pengguna tidak asal tap‑tap, tetapi memakai jaringan publik secara aman dan bertanggung jawab—terutama dari hoaks, konten negatif, dan penyalahgunaan data.

Digital Tangsel menuju SPBE yang Nyata Ekspansi 5.000 titik internet gratis diposisikan sebagai salah satu pilar utama Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) di Tangsel. Selain Wi‑Fi publik, Pemkot mengembangkan pusat data (data center), mengoptimalkan command center, serta memadukan aplikasi antar‑perangkat daerah agar layanan publik tidak lagi “terpotong‑potong” di tiap dinas.

Langkah ini memperkuat posisi Tangsel sebagai kota yang adaptif terhadap ekonomi digital, sekaligus mengingatkan bahwa koneksi gratis harus dibarengi literasi digital dan kewaspadaan warga. Wali Kota Benyamin Davnie dan Diskominfo menekankan bahwa digitalisasi harus inklusif: masyarakat bawah, pelajar, pedagang kaki lima, hingga jamaah masjid pun bisa merasakan manfaatnya.

Solusi agar Wi‑Fi Gratis Tidak Percuma Supaya 5.000 titik ini tidak sekadar “lampu hias”, beberapa langkah konkret bisa diusulkan :

Kolaborasi RT‑RW: ketua RT/RW bisa menggalang pelatihan mini tentang cara aman pakai internet, cara cek hoaks, dan memanfaatkan layanan Pemkot Tangsel online.

Kontrol di titik strategis : tokoh agama, ketua RT, atau wali murid bisa menjadi “pengawas sosial” di masjid, gereja, dan taman untuk mengingatkan pengguna jika ada aktivitas mencurigakan (misalnya penipuan daring atau penyebaran konten ilegal).

Masukan ke Diskominfo : warga bisa mengusulkan penambahan titik Wi‑Fi di lokasi yang belum terjangkau, asalkan memang ruang publik dan punya kebutuhan nyata.

Pendampingan edukatif : Diskominfo bisa menggandeng pelajar, mahasiswa, atau komunitas IT untuk menggelar kelas “teknologi sehat” di balai warga atau masjid, sehingga internet gratis benar‑benar menjadi alat pemberdayaan, bukan hanya hiburan.

Dengan pendekatan itu, internet gratis 5.000 titik akan menjadi benar‑benar “arus baru” yang membawa warga Tangsel lebih dekat ke layanan, ilmu, dan peluang—tanpa meninggalkan nilai kebersamaan dan kehati‑hatian. *Aman*


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال