Meluruskan Spekulasi: Polisi Hentikan Kasus SMPN 19 Tangsel Lewat Bukti Ilmiah


Tangsel - Teka-teki panjang serta spekulasi liar mengenai penyebab kematian tragis seorang siswa SMPN 19 Tangerang Selatan akhirnya menemui titik terang. Setelah sempat viral sebagai dugaan aksi perundungan (bullying), Kepolisian Resor (Polres) Tangerang Selatan secara resmi merilis hasil investigasi komprehensif yang mematahkan asumsi publik tersebut.

Kapolres Tangsel, AKBP Victor Daniel Henry Inkiriwang, menegaskan bahwa berdasarkan serangkaian penyelidikan berbasis scientific crime investigation, penyebab kematian korban murni merupakan faktor medis.

"Kami tidak ingin bergerak di atas asumsi. Oleh karena itu, kami melibatkan 15 saksi kunci dan 6 ahli lintas disiplin untuk memastikan kebenaran yang objektif," ujar Victor di Mapolres Tangsel, Kamis sore (31/12/2025).

Sinergi 6 Ahli: Membaca Bukti di Balik Mikroskop Kepolisian mengambil langkah ekstra dengan menghadirkan panel ahli, mulai dari spesialis neurologi hingga ahli pidana. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa setiap jengkal kejadian di Tempat Kejadian Perkara (TKP) selaras dengan temuan medis.

Ahli Forensik dari RSUD Kabupaten Tangerang, dr. Liauw Djai Yen, memaparkan temuan yang memilukan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, terdapat tumor pada bagian kepala korban yang memicu pendarahan hebat. Pendarahan inilah yang kemudian menyumbat saluran cairan di otak, hingga menyebabkan kegagalan pernapasan yang berujung pada kematian.

"Hasil Magnetic Resonance Imaging (MRI) dari RS Fatmawati memperkuat temuan ini. Tidak ditemukan satu pun tanda kekerasan fisik pada tubuh korban," tambah dr. Liauw.

Akhir Perkara dan Jalan Damai Seiring dengan keluarnya hasil forensik yang mematahkan dugaan kekerasan, pihak keluarga korban dan pihak yang sebelumnya diduga sebagai pelaku sepakat untuk menempuh jalan mediasi. Dengan tidak ditemukannya unsur pidana, Kasat Reskrim Polres Tangsel, AKP Wira Graha Setiawan, menyatakan bahwa penyelidikan kasus ini resmi dihentikan.

Solusi & Analisis Media (Sudut Pandang Berbeda)

Kejadian ini menyisakan pelajaran berharga bagi ekosistem pendidikan dan masyarakat digital. Berikut adalah solusi strategis untuk mencegah kegaduhan serupa di masa depan:

Literasi Medis di Lingkungan Sekolah: Pihak sekolah perlu memiliki rekam medis siswa yang lebih mendetail. Tumor otak seringkali memberikan gejala yang tersamar (pusing, mual, pingsan) yang sering disalahartikan sebagai akibat benturan atau kelelahan.

Filter Informasi Digital: Kasus ini membuktikan betapa cepatnya isu bullying menyebar tanpa verifikasi medis. Media dan netizen perlu didorong untuk mengedepankan asas praduga tak bersalah sebelum hasil otopsi keluar guna menghindari stigma sosial bagi siswa lain yang belum tentu bersalah.

Manajemen Krisis Sekolah: SMPN 19 Tangsel dan sekolah lainnya harus memiliki protokol komunikasi krisis yang transparan agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi yang merugikan nama baik institusi..(AM2GA)


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال