Bedah Buku Freire: Bongkar Pendidikan Kaku, Bangun Dialog Kritis Mahasiswa


 

Tangsel – (Opini) Masih marak praktik pengajaran monoton di kelas: guru ceramah panjang, siswa pasif mencatat seperti tabung kosong. Pola usang ini bukan cuma membosankan, tapi juga melahirkan krisis kesadaran—siswa tak dilatih bertanya atau menantang status quo. Diskusi mendalam soal pendidikan kritis kini jadi kebutuhan mendesak untuk membalikkan roda ini.

Merayakan urgensi itu, Saung Literasi berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam (HIMPI) menggelar bedah buku Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire, Sabtu (25/4/2026). Lebih dari sekadar review buku, acara ini jadi panggung revolusi pemikiran: mempertanyakan esensi pendidikan di era yang menuntut pembebasan intelektual.

Pemateri Ragil Januar membuka diskusi dengan gaya ringan, tapi menusuk: konsep "pendidikan bank" Freire yang brutal menggambarkan siswa sebagai deposito pengetahuan—isi, hafal, ulang. "Ini realitas kelas kita sehari-hari," katanya, memicu anggukan setuju dari puluhan peserta. Mereka "relate" habis-habisan saat Freire usulkan alternatif radikal: pendidikan sebagai dialog dua arah, di mana guru dan siswa saling belajar, menggali realitas sosial seperti mitra seperjuangan.

Api diskusi membara berkat Muhammad Romi sebagai moderator. Obrolan meluber ke pengalaman pedas: sistem nilai yang membunuh kreativitas, kesenjangan akses belajar antar daerah. Tak ada lagi nuansa kaku—semua mengalir bak sungai deras ide.

Rafael Valentino, Founder Saung Literasi, menegaskan : "Ini langkah awal krusial. Ruang seperti ini harus dirutinkan agar mahasiswa tak sekadar menelan ilmu, tapi jadi agen perubahan yang kritis."

Solusi Konkret dari Diskusi: Untuk lawan pendidikan kaku, peserta usulkan workshop bulanan seperti ini, integrasi Freire ke modul PPKn sekolah, dan pelatihan guru via platform digital seperti MENTARI. Langkah ini bisa bebaskan kelas dari "bank pengetahuan", ubah siswa jadi pemikir mandiri—bukan robot hafalan.

Akhirnya, pesan Freire bergema: pendidikan sejati membebaskan, bukan membelenggu. Saatnya action, bukan lagi keluhan. (AM2GA)

 

 


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال