Kepala Dinas Kesehatan Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar, mengatakan skrining tersebut dilakukan secara sederhana melalui self-assessment dengan sekitar enam pertanyaan dasar. Pertanyaan itu berkaitan dengan kondisi emosional dan fisik warga dalam dua pekan terakhir.
“Ini masih skrining awal, bukan pemeriksaan psikologi yang kompleks,” ujar Allin, Selasa (1/9/2026).
Ia menjelaskan, indikator yang ditanyakan meliputi rasa cemas berlebihan, kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum terjadi, ketakutan, hingga gangguan tidur. Menurutnya, hasil skrining berisiko depresi tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan jiwa berat atau membutuhkan penanganan medis khusus.
Allin menegaskan, kejujuran warga saat menjawab pertanyaan menjadi kunci agar potensi gangguan kesehatan mental bisa diketahui lebih dini. Dari hasil skrining itu, pemerintah dapat menentukan langkah edukasi dan pendampingan yang tepat.
Temuan serupa juga muncul di kalangan pelajar. Sebanyak 629 siswa SMA di Tangsel teridentifikasi memiliki risiko depresi ringan berdasarkan hasil skrining yang dilakukan.
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie juga mengakui adanya sejumlah anak yang menunjukkan kondisi depresi ringan melalui proses konseling yang dilakukan perangkat daerah. Ia menyebut salah satu pemicunya bisa berasal dari tekanan psikologis, termasuk kegagalan masuk sekolah negeri.
Di sisi lain, Benyamin menyampaikan sekitar 53 persen warga Tangsel telah mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis. Dari hasil itu, hipertensi dan diabetes menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan. (AM2GA)
